Ayam atau telur

Ayam atau telur

Sependek pengalaman dan niat yg d karyakan dalam menggulirkan bola salju RUM (Rational Use of Medicine), ada beberapa objection yg paling “klasik” yang selalu di lemparkan saat kisah RUM ini kubagikan.

“Kalo Antibiotik mmg tidak bagus dan tidak dapat menyembuhkan anak2 dari batuk pilek, trus kenapa DSA ataupun dokter2 lain bisa resepkan?”

“Dokter kan udah lewatin 6 tahun pendidikan, pastilah beliau lebih tahu. Jadi kl di kasih obat2an termasuk antibiotik yaa pasti udah tepatlah”

“Kenapa dokter2 itu tidak mulai duluan d larang kasih resep AB untuk kasus2 Common Cold? Atau apotek2 di larang jual AB?”

Kira-kira begitulah.
Jujur saja kl d tanya begitu aku akan jawab “tidak tahu”.
Yess ak tidak tahu dan tidak kompeten untuk menjawabnya.
Dan seandainya pun aku tau jawabnya aku memilih untuk tidak menjawab.

Kenapa?
Karna itu seperti menjawab pertanyaan “duluan mana ayam atau telur?” ada yg bs jwb?Β πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Pilihanku
Adalah memulai dari diri sendiri.
Memaksa diri ini untuk mereset dari nol tanpa asumsi.
Meluangkan waktu untuk belajar, membuka hati dan pikiran untuk hal2 sederhana pada ilmu pengetahuan.

Rasanya nggak sulit kok memahami bbrp prinsip dasar seperti di bawah ini:

1. Antibiotik sesuai namanya adalah obat untuk menangani BAKTERI.
2. Bakteri TIDAK SAMA DENGAN VIRUS.
3. Jadi kalau infeksinya karna virus dan di kasi antibiotik itu namanya jaka sembung bawa golok gak bakal nyambuuung. Seperti mencari tikus d hutan dan yg d bakar adalah hutannya bukan si tikus yg bersembunyi d dlm tanah.
4. Untuk semua gejala (sakit) yg kita rasakan ada tata laksana lengkap yg bisa jadi panduan bagi kita. Cukup dengan MAU MEMBACA.
5. Virus sifatnya adalah self limited alias mati sendiri oleh sistem kekebalan tubuh kita.

Itu aja dulu. Msih banyak sih yg lain, tapi dari 5 point d atas bisa kita kembangkan untuk belajar.

Masalah kesehatan kita dan orang2 tersayang bukan melulu tanggung jawab dokter atau para nakes lainnya.
Kita pun harus ikut mengambil bagian dalam hal ini.

Jadi dari pada menuntut dokter2 DAHULU yg berubah mnjd RUM lebih baik kita lakukan lebih dulu. Jadilah pasien cerdas.
Fokuslah pada SOLUSI bukan masalah.

Banyak kok yang bisa kita lakukan. Mencari second opinion misalnya.
Atau kalau aku sendiri kulakukan hak-ku sebagai pasien: banyak bertanya.

Iyess….
DSA yg baru saja “kutemukan” adalah DSA yg “lolos” wawancaraku.
Aku banyak bertanya pandangan beliau ttg RUM, tentang antibiotik, tentang vaksin, tentang common cold.
Dan lihat pandangan2nya dengan seksama hingga akhirnya aku memutuskan mempercayakan anak2ku ke beliau dan yakin bahwa aku bisa jadi partner baginya untuk diskusi bersama menghadapi masalah2 kesehatan anak ini.

Dari pada sibuk sama telur atau ayam, lebih baik kita masak keduanya jadi opor yg lezat kan???

Ayok, bijak antibiotik
Ayok belajar jadi pasien yang cerdas

*edisi galau melihat kenyataanΒ πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Post Your Comment